



(SeaPRwire) – By: Adrian Kingsley
Film ‘The Death of Robin Hood’ yang ditulis dan disutradarai Michael Sarnoski ini bukan sekadar adaptasi. Ini adalah dekonstruksi total terhadap ikon budaya. Sarnoski, sutradara film ‘Pig’ dan ‘A Quiet Place: Day One’, mengambil sumber cerita dari ballad abad ke-17 yang berjudul ‘Robin Hood’s Death’. Dalam versi aslinya, pahlawan legendaris itu tidak gugur dalam pertempuran epik. Dia mati secara diam-diam di tempat tidur karena darah yang diambil terlalu banyak oleh sepupunya, seorang biarawati.
Konsep kematian yang sederhana dan manusiawi ini menjadi benih utama bagi film thriller baru tersebut. Sarnoski ingin menggali lebih dalam karakter Robin Hood sebagai manusia biasa, bukan dewa perang. Pertanyaannya adalah bagaimana mengubah narasi heroik selama berabad-abad menjadi sebuah tragedi psikologis yang intim dan menyakitkan.
Dalam film ini, Hugh Jackman memerankan Robin Hood yang jauh dari kata suci. Dia menyebut dirinya sendiri sebagai “bandit pembunuh”. Eksploitasi yang dipimpinnya didorong oleh keserakahan, bukan keadilan. Robin dan “Merry Men”-nya telah meninggalkan jejak mayat di mana-mana. Sekarang, di masa tua mereka, utang darah itu menagih balik. Anggota keluarga korban datang satu per satu untuk membalas dendam.
Sarnoski mengubah peran Prioress dari sosok jahat menjadi penyembuh yang welas asih. Dalam ballad asli, motivasi Prioress sering kali ambigu atau bahkan dianggap jahat. Namun, Sarnoski melihat keindahan dalam hubungan intim antara Robin dan Prioress, yang dimainkan oleh Jodie Comer. Perubahan karakter ini bukan sekadar estetika. Ini adalah alat naratif untuk memaksa Robin menghadapi konsekuensi dari tindakannya sendiri.
Film ini memulai dengan kekerasan intensif sebelum beralih ke ketenangan transendental. Perjalanan Robin adalah tentang menyesuaikan pemahaman mengenai kematian yang layak. Dia mencari “kematian yang baik”, tetapi definisinya berubah seiring dia menemukan kedamaian pertama kalinya di sebuah biara terpencil.
Kematian Robin bukanlah akhir dari siklus kekerasan, melainkan titik balik moral. Dia akhirnya menyadari bahwa perlindungan adalah bentuk penebusan dosa tertinggi. Dengan menyerahkan nyawanya pada tangan mereka yang pernah dia sakiti, Robin Hood akhirnya menjadi manusia yang utuh.
Author bio: Adrian Kingsley, seorang sarjana internasional terkemuka yang telah lama mempelajari administrasi publik dan kebijakan sosial.