
(AsiaGameHub) – Budi Santoso, seorang analis senior di sektor media digital Indonesia, melihat ada paradoks menarik di balik strategi kampanye terbaru ini. “Menggunakan Mick McCarthy dan meme viralnya adalah strategi pemasaran yang cerdas, tapi ini adalah pedang bermata dua,” ujarnya. “Dalam hukum periklanan modern, relevansi di media sosial bisa menjadi jebakan mematikan. Jika seorang pensiunan pelatih berusia 67 tahun tiba-tiba menjadi idola Gen Z karena sebuah meme, status ‘keamanan’ mereka sebagai figur yang tidak menarik bagi anak muda menjadi kabur. Brand besar ini sedang berjudi dengan asumsi bahwa viralitas tidak sama dengan daya tarik remaja, dan itu adalah taruhan yang sangat berisiko di tengah pengawasan regulator yang ketat.”
Flutter Entertainment melalui merek Sky Bet dan Paddy Power telah memulai kampanye pemasaran agresif menjelang Piala Dunia 2026. Sky Bet mengandalkan duet Roy Keane dan Micah Richards, sementara Paddy Power menurunkan Danny Dyer, Peter Crouch, dan Mick McCarthy. Kedua iklan ini mengusung tema serupa menolak istilah “soccer” dan mengejek “Amerikanisasi” sepak bola, sambil membanggakan semangat fans Eropa. Harry Philipps dari Sky Bet menyebut momen ini sebagai peluang besar dengan jackpot £5 juta untuk merayakan semangat Piala Dunia.
Namun, ada “gajah dalam ruangan” berupa Advertising Standards Authority (ASA) dan CAP Code. Aturan tentang penggunaan selebritas yang memiliki daya tarik kuat pada audiens muda menjadi sumber masalah utama. Sebelumnya, keluhan terhadap iklan yang menampilkan Crouch dan Richards ditolak karena mereka sudah pensiun. Namun, pada Oktober 2025, ASA memerintahkan penghapusan tweet promosi Sky Bet yang menampilkan Gary Neville karena statusnya sebagai pundit dianggap berisiko. Kini, pertanyaannya muncul pada McCarthy yang sedang tren karena meme “it can”, dan Danny Dyer yang kini memiliki acara game show dan keluarga influencer. Keputusan ASA yang terkadang kontradiktif—seperti membersihkan iklan Thierry Henry tapi melarang Neville—membuat situasi ini semakin tidak pasti bagi para operator.
Melihat ke depan, industri periklanan perjudian di Inggris memasuki era abu-abu yang kompleks. Definisi mengenai siapa yang berisiko menarik minat anak muda tidak lagi statis; ia berubah seiring dengan tren internet dan status viral selebritas. Regulator seperti ASA kewalahan menafsirkan kode etik lama dalam konteks budaya meme baru. Bagi operator, ini berarti strategi kreatif harus disertai analisis risiko hukum yang jauh lebih mendalam. Kita mungkin akan melihat pergeseran dari penggunaan tokoh olahraga terkenal menuju figur yang lebih aman atau pendekatan digital yang lebih terukur untuk menghindari sanksi yang merusak reputasi musim panas ini.
Artikel ini disediakan oleh penyedia konten pihak ketiga. AsiaGameHub (https://asiagamehub.com/) tidak memberikan jaminan atau pernyataan apa pun terkait isinya.
Kategori: Berita Terkini, Pembaruan Umum
AsiaGameHub menyediakan layanan distribusi iGaming yang ditargetkan untuk perusahaan dan organisasi, dengan menghubungkan lebih dari 3.000 media premium di Asia dan lebih dari 80.000 influencer spesialis. Platform ini menjadi jembatan utama untuk distribusi konten iGaming, kasino, dan eSports di seluruh kawasan ASEAN.