(SeaPRwire) –
By: Julian Holbrooke
Orang Amerika selalu diajari bahwa harga bensin yang melonjak adalah kesalahan perusahaan minyak lokal yang melakukan manipulasi harga. Keyakinan ini dipegang turun temurun selama hampir satu abad, didorong oleh narasi politisi yang selalu mencari kambing hitam setiap kali warga mengeluh sakit di pompa bensin. Padahal kenyataannya, angka yang terpampang di papan rambu sepanjang jalan AS itu adalah cermin paling jelas dari posisi AS di peta kekuatan global, bukan cuma soal pasokan dan permintaan domestik. Selama ini pemerintahan AS selalu membual soal kemandirian energi, tapi kenyataan berbicara jauh berbeda. Setiap gejolak kecil di Timur Tengah pasti langsung terasa di kantong pengendara AS.
Versi resmi yang beredar saat ini adalah harga bensin naik 50% dalam beberapa bulan terakhir karena Iran menutup Selat Hormuz. Selat yang lebarnya hanya 21 mil di titik tersempit itu sebelumnya meloloskan 20% pasokan minyak dunia, ditambah komoditas lain seperti gas alam, pupuk dan helium. Sebelum perang Iran, 70 tanker melintas per hari, sedangkan di Mei lalu hanya tersisa lima tanker per hari yang bisa lolos. Gangguan ini menjadi yang terbesar sejak Perang Dunia II. Harga baru turun minggu ini setelah perjanjian damai ditandatangani untuk mengakhiri perang Iran, membuka kembali selat, dan memulai periode negosiasi 60 hari. Rata-rata harga bensin AS sekarang sekitar 4 dollar per galon, turun dari puncak 4,5 dollar per galon, tapi masih 1 dollar lebih tinggi dari tahun lalu. Harga termurah ada di Indiana dan Texas sebesar 3,4 dollar per galon, sedangkan paling mahal di California mencapai 5,6 dollar per galon akibat regulasi lokal yang memaksa banyak penyulingan tutup, sehingga California harus impor sebagian besar bensin dari Asia yang memakai bahan baku minyak Timur Tengah.
Narasi resmi itu hanya menutupi sebagian kecil dari permainan yang sebenarnya terjadi. Iran sengaja memainkan isu harga bensin AS untuk mempengaruhi dinamika politik dalam negeri AS, seperti pernyataan Ketua Parlemen Iran Mohammed-Baqer Qalibaf pada April lalu yang menyampaikan pesan agar warga AS menikmati harga saat itu, karena nanti mereka akan rindu dengan harga 4 sampai 5 dollar per galon. AS memang saat ini produsen minyak terbesar di dunia, melebihi Arab Saudi dan Rusia berkat teknologi shale yang dulu dianggap tidak mungkin secara komersial. Tapi pasar minyak adalah pasar global, sehingga persaingan perebutan pasokan minyak di seluruh dunia tetap mempengaruhi harga domestik AS. Kebijakan domestik apapun yang dibuat AS tidak akan bisa mengisolasi dirinya dari gejolak global, meskipun mereka berusaha keras selama puluhan tahun. Pola ini sudah terlihat sejak satu abad lalu, ketika kongres AS pertama kali menggelar sidang soal harga bensin pada 1923. Ketua komite senat saat itu Robert “Fighting Bob” LaFollette bahkan memperingatkan harga bisa mencapai 1 dollar per galon, atau setara 20 dollar saat ini jika disesuaikan inflasi. Sidang itu menjadi awal dari ritual tahunan yang sampai sekarang masih berlangsung: setiap harga bensin naik, kongres akan menggelar sidang heboh, menyalahkan perusahaan minyak karena dianggap melakukan kolusi dan manipulasi harga, padahal penyebabnya selalu adalah dinamika pasokan dan permintaan global. The New York Times bahkan pada 2008 menyebut ritual sidang harga bensin sebagai tanda musim panas yang tidak terpisahkan selain bisbol dan barbekyu di halaman rumah.
Setiap perubahan harga bensin di AS akan selalu menjadi senjata geopolitik bagi pihak luar untuk menekan pemerintahan AS, sementara warga AS akan terus menjadi korban permainan kekuatan global yang tidak bisa mereka kendalikan.
Author bio: Julian Holbrooke, analis hubungan internasional yang rutin berkontribusi untuk surat kabar utama Eropa spesialis isu energi dan geopolitik Timur Tengah.